Senin, 15 Oktober 2012

Belajar dari Lebah

Tentu kita sering melihat lebah, bukan? tapi, apakah kita pernah memperhatikan cara kerjanya sehingga menghasilkan madu yang bisa kita konsumsi sebagai obat. coba perhatikan apa yang dilakukan lebah sehingga manusia bisa mendapatkan 1 Kg madu darinya.
Menurut para ilmuwan, untuk memproduksi madu itu, lebah harus naik hampir 600.000 sampai 800.000 kali. Ia harus menghampiri jutaan bunga, menenpuh perjalanan dari 10  kali lipat bola bumi,  menghadapi angin dan gelombang. pada saat produksi itu, tidak ada lebah yang dibiarkan menganggur. jika ada ynag menganggur, maka ia dijauhkan dari sarangnya. sebab, lebah penganggur akan mempersempit tempat dan juga menghabiskan madu. kemudian lebah yang rajin mengajari lebah yang malas. SubhanaAllah, betapa indah pelajaran dari kerja keraas koloni lebah ini.

Inspirasi Dari Pohon Pisang

Mari kita mulai bahasan ini dengan mengambil inspirasis dari pohon pisang. Pernah kita merenungkan tentang keberadaan pohon pisang? kalau belum, coba renungkan. ternyata, ada sebuah pelajaran menarik di balik eksistensi sebuah pohon pisang. ia selalu mewariskan keturunan. sebelum sebuah pohon pisang menghasilkan buah yang mulai matang; atau sebelum pisang itu ditebang oleh pemiliknya karena sudah tua, maka pohon itu selalau memunculkan tunas-tunas pohon pisang lainya.
Kita tahu, pohon pisang termasuk tumbuhan unik. ia hanya menghasilkan buah sekali saja. kalau buahnya sudah diambil, otomatis pohon itu akan mati, ia sudah mempersiapkan "generasi berikutnya". Di sini tidak terjadi kekosongan generasi. Istilah " Lost Generation" tidak dikenal dalam kehidupan pisang. seakan-akan ia berpesan untuk terus memberi manfaat, tanpa mengenal waktu dan kondisi. tak ada jeda. tak ada keterputusan. semestinya, hidup kita seperti pohon pisang itu. selalu ada untuk kepuasan dan kebahagian demi kebaikan orang lain (*).

Rabu, 03 Oktober 2012

Bernegosiasilah Sekarang, Bukan di Ujung Kehidupan

Hidup ini seperti naik taksi. Argonya jalan terus, kita dikejar oleh waktu yang begitu cepat. pergantian masa dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan terasa begitu cepat. jika, disadari maka umur kita terus mangalami peningkatan angka. Namun jatah usia kita semakin berkurang. Karena itu, selama masih sehat, manusia masih bisa negosiasi tentang hal-hal apa saja yang akan didapatkan di akhirat nanti
Sudah siapkah kita bertemu dengan si pemutus segala kelezatan, yaitu maut.????
Tempat kita di akhirat nanti masih bisa dinegosiasikan saat masih di dunia ini, bukan ketika jasad telah berpisah dengan ruh. Cara mati yang bagaimana yang kita inginkan? Mau cara kasar atau lembut? Mau cara baik-baik atau aneh?
Negosiasi hanya bisa kita lakukan pada saat ini, dimana ada waktu, ada tenaga, dan ada pikiran yang masih dapat kita gunakan untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai, saat masih bisa berpikir kita tak pernah memanfaatkan waktu-waktu untuk kebaikan, sedangkan ketika maut di depan mata, kita baru berpikir tentang amal baik.
Sesekali berpikir dan merenunglah dari ujung kehidupan, bukan dari awal kehidupan. kita biasanya lebih sering berpikir tentang kehidupan dari bayi hingga menjadi dewasa, bahkan kemudian menjadi tua renta. Sejak sekolah, lalu menjadi sarjana, kemudian melamar kerja, lalu mempunyai posisi dan kedudukan, punya rumah, kendaraan, dihormati di masyarakat, kemudian di masa tua menjalani pensiun dengan tenang, sampai akhirnya meninggal dunia. Tapi jarang di antara kita berpikir terbalik, bagaimana bila sudah di masa tua dan bagaimana dia mengakhiri hidupnya? Karena, ketika seseorang mengetahui bahwa akhir kehidupannya seperti apa, maka ia akan mengetahui aktivitas apa yang semestinya dilakukan untuk masa depan yang teramat panjang, yaitu di kampung akhirat nanti. (*)