Minggu, 23 Desember 2012

EMPAT HAL SEBELUM TIDUR

Rasulullah berpesan kepada siti Aisyah ra.

“ Ya, Aisyah! Jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara yaitu :

1. Sebelum khatam al-Quran
2. Sebelum menjadikan para nabi bersyafaat untukmu di hari kiamat
3. Sebelum para muslimin meridhai engkau
4. Sebelum engkau melaksanakan haji dan umrah “

Bertanya siti Aisyah :
“Ya Rasulullah ! bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika? “

Rasul tersenyum dan bersabda :

1. “Jika engkau akan tidur , membacalah surat al –Ikhlas tiga kali
Seakan-akan engkau telah meng-khatamkan Al-Quran

” Bismillaahirrohmaan irrohiim,
‘Qulhuallaahu ahad’ Allaahushshamad’ lam yalid walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ 
   ( 3x ) “

2. "Membacalah shalawat untukku dan untuk para nabi sebelum aku" maka kami semua akan memberimu syafaat di hari kiamat “

“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Allaahumma shallii ‘alaa Muhammad wa’alaa aalii Muhammad 
   ( 3x)“

3. “Beristighfarlah” untuk para mukminin maka mereka akan meridhai engkau

“ Astaghfirullaahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih ( 3x )

4. Dan perbanyaklah “bertasbih, bertahmid , bertahlil dan bertakbir” maka seakan-akan engkau telah melaksanakan ibadah haji dan umrah

“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Subhanallaahi Walhamdulillaahi walaailaaha illallaahu allaahu akbar ( 3x )

( Tafsir Haqqi)

Wallahu a’lam bishawwab

Sabtu, 22 Desember 2012

TIGA FAKTOR PEMBENTUK KEPRIBADIAN

Imam, Ali r.a pernah berkata :
1. Jadilah manusia yang paling baik disisi Allah
2. Jadilah manusia yang paling buruk dalam pandangan dirimu
3. Jadilah manusia biasa dalam pandangan Orang lain

Syeh Abdul Qadir Jaelani berkata : “ Bila engkau bertemu dengan seseorang , hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu :
“Boleh jadi dia lebih baik disisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.

Jika orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu , maka katakanlah dalam hatimu : “ Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa , maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada aku.”

Bila dia orang yang lebih tua , hendaknya engkau mengatakan dalam hati :”Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku”.

Jika dia orang ‘Alim , maka katakan dalam hatimu :” Orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya”.

Bila dia Orang Bodoh, maka katakan dalam hatimu : Orang ini
durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada –NYA , padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khaitimah atau Su’ul khatimah).

Bila dia orang kafir , maka katakan dalam hatimu : “Aku tidak tahu bisa jadi dia akan masuk islam, lalu menyudahi seluruh amalannya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu menyudahi seluruh amalanku dengan amal yang buruk”. ( Nauzubillahi min zalik)

Dalam pandangan islam semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status sosial, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikannya. Manusia yang paling mulia derajatnya disisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketakwaannya diantara mereka. Oleh karena itu sebagaian ulama berdoa dengan doa berikut :

“ YA ALLAH JADIKANLAH AKU ORANG YANG PANDAI BERSABAR DAN BERSYUKUR. JADIKANLAH AKU SEORANG YANG HINA MENURUT PANDANGAN DIRIKU SENDIRI DAN JADIKANLAH AKU ORANG YANG BESAR MENURUT PANDANGAN ORANG LAIN”
***
Ahli Bijak ketika ditanya : “ BAGAIMANA KEADAANMU? “ , Mereka menjawab :
1.Aku bersama Allah, yakni selalu melaksanakan perintah-Nya
2. Aku bersama nafsu, yakni selalu memeranginya.
3.Aku bersama dunia, yakni selalu mengambilnya sebatas yang kuperlukan.”

•* Imam Nawawi Al-Bantani “ Nashaihul Ibad

Rabu, 14 November 2012

Ungkapan Hati
Setelah aku renungi dengan datangnya tahun baru hijriyah 1434H ini jatah umur aku hidup di dunia semakin berkurang dan dosa-dosa makin bertumpuk kayak gunung belum sepenuh hati melaksnakan perintah-Nya, aku takut semua amal Ibadah yang aku lakukan tidak di terima- Nya. apalah artinya aku di gembleng di bulan suci Ramdhan yang penuh rahmat itu yang pada akhirnya aku tidak mendapatkan perubahan yang berarti selama 24 tahun aku hidup di dunia ini, dan pada akhirnya aku hanya berharap ampunan ya Allah yang tidak sepenuh hati melaksanakan segala perintah-Mu.

Senin, 15 Oktober 2012

Belajar dari Lebah

Tentu kita sering melihat lebah, bukan? tapi, apakah kita pernah memperhatikan cara kerjanya sehingga menghasilkan madu yang bisa kita konsumsi sebagai obat. coba perhatikan apa yang dilakukan lebah sehingga manusia bisa mendapatkan 1 Kg madu darinya.
Menurut para ilmuwan, untuk memproduksi madu itu, lebah harus naik hampir 600.000 sampai 800.000 kali. Ia harus menghampiri jutaan bunga, menenpuh perjalanan dari 10  kali lipat bola bumi,  menghadapi angin dan gelombang. pada saat produksi itu, tidak ada lebah yang dibiarkan menganggur. jika ada ynag menganggur, maka ia dijauhkan dari sarangnya. sebab, lebah penganggur akan mempersempit tempat dan juga menghabiskan madu. kemudian lebah yang rajin mengajari lebah yang malas. SubhanaAllah, betapa indah pelajaran dari kerja keraas koloni lebah ini.

Inspirasi Dari Pohon Pisang

Mari kita mulai bahasan ini dengan mengambil inspirasis dari pohon pisang. Pernah kita merenungkan tentang keberadaan pohon pisang? kalau belum, coba renungkan. ternyata, ada sebuah pelajaran menarik di balik eksistensi sebuah pohon pisang. ia selalu mewariskan keturunan. sebelum sebuah pohon pisang menghasilkan buah yang mulai matang; atau sebelum pisang itu ditebang oleh pemiliknya karena sudah tua, maka pohon itu selalau memunculkan tunas-tunas pohon pisang lainya.
Kita tahu, pohon pisang termasuk tumbuhan unik. ia hanya menghasilkan buah sekali saja. kalau buahnya sudah diambil, otomatis pohon itu akan mati, ia sudah mempersiapkan "generasi berikutnya". Di sini tidak terjadi kekosongan generasi. Istilah " Lost Generation" tidak dikenal dalam kehidupan pisang. seakan-akan ia berpesan untuk terus memberi manfaat, tanpa mengenal waktu dan kondisi. tak ada jeda. tak ada keterputusan. semestinya, hidup kita seperti pohon pisang itu. selalu ada untuk kepuasan dan kebahagian demi kebaikan orang lain (*).

Rabu, 03 Oktober 2012

Bernegosiasilah Sekarang, Bukan di Ujung Kehidupan

Hidup ini seperti naik taksi. Argonya jalan terus, kita dikejar oleh waktu yang begitu cepat. pergantian masa dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan terasa begitu cepat. jika, disadari maka umur kita terus mangalami peningkatan angka. Namun jatah usia kita semakin berkurang. Karena itu, selama masih sehat, manusia masih bisa negosiasi tentang hal-hal apa saja yang akan didapatkan di akhirat nanti
Sudah siapkah kita bertemu dengan si pemutus segala kelezatan, yaitu maut.????
Tempat kita di akhirat nanti masih bisa dinegosiasikan saat masih di dunia ini, bukan ketika jasad telah berpisah dengan ruh. Cara mati yang bagaimana yang kita inginkan? Mau cara kasar atau lembut? Mau cara baik-baik atau aneh?
Negosiasi hanya bisa kita lakukan pada saat ini, dimana ada waktu, ada tenaga, dan ada pikiran yang masih dapat kita gunakan untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai, saat masih bisa berpikir kita tak pernah memanfaatkan waktu-waktu untuk kebaikan, sedangkan ketika maut di depan mata, kita baru berpikir tentang amal baik.
Sesekali berpikir dan merenunglah dari ujung kehidupan, bukan dari awal kehidupan. kita biasanya lebih sering berpikir tentang kehidupan dari bayi hingga menjadi dewasa, bahkan kemudian menjadi tua renta. Sejak sekolah, lalu menjadi sarjana, kemudian melamar kerja, lalu mempunyai posisi dan kedudukan, punya rumah, kendaraan, dihormati di masyarakat, kemudian di masa tua menjalani pensiun dengan tenang, sampai akhirnya meninggal dunia. Tapi jarang di antara kita berpikir terbalik, bagaimana bila sudah di masa tua dan bagaimana dia mengakhiri hidupnya? Karena, ketika seseorang mengetahui bahwa akhir kehidupannya seperti apa, maka ia akan mengetahui aktivitas apa yang semestinya dilakukan untuk masa depan yang teramat panjang, yaitu di kampung akhirat nanti. (*)

Senin, 24 September 2012

La Tahzan, Karena Hanya Allah yang Mampu Mengganti
Umur dunia ini sangat pendek dan gudang kenikmatannya pun sangat miskin. adapun akhirat, lebih baik dan kekal. sehingga barang siapa di dunia mendapat musibah ia akan mendapatkan kenikmatan di akhirat kelak, dan barang siapa hidup sengsara di dunia ia akan hidup bahagia di akhirat. Lain halnya dengan mereka yang memang lebih mencintai dunia, hanya menambahkan kenikmatan dunia saja dan lebih senang keindahan dunia. hati mereka akan selalu gundah gulana, cemas tidak mendapatkan kenikmatan dunia dan takut tidak nyaman hidupnya di dunia. Mereka ini hanya mengingkan kenikmatan dunia saja, sehingga mereka selalu memandang musibah sebagai petaka besar yang mematikan. Mereka juga akan memandang setiap cobaan sebagai sesuatu yang gelap gulita selamanya. Ini adalah karena mereka selalu memandang ke arah di mana langkah kakinya dan hanya mengagungkan dunia yang sangat fana dan tak berharga ini.  (zan)

Rabu, 12 September 2012

Inspirasi dari Merpati

" Banyak jiwa dan hati yang tak tersentuh oleh indahnya kata-kata tapi, ia bisa tersentuh oleh cahaya keikhlasan "

Minggu, 08 Januari 2012

Sebuah Penggalan Hadis


Sesungguhnya dunia ini diperuntuhkan bagi empat golongan. (Golongan pertama) adalah seorang hamba yang Telah dianugerahai oleh Allah harta dan Ilmu dan ia adalah seorang yang bertakwa kepada tuhannya, ia menjalin tali sillaturahmi dan mengetahui bahwa di dalam hartanya ada hak-hak Allah. Maka, orang seperti ini sebaik-baiknya golongan. (Golongan kedua) adalah hamba yang dianugerahi ilmu dan tidak dianugerahi harta, namun ia adalah orang yang niatnya tulus. 
Ia berkata, "seandainya aku memiliki harta niscaya aku bisa beramal seperti amalnya sifulan." maka ia memperoleh pahala karena niatnya. Dan pahala keduanya sama. (H.R Ahmad dan Tirmidzi)